Life

Fenomena Gegar Budaya atau Culture Shock

Screen Shot 2017-11-21 at 23.19.04

Pernah gak sih kalian merasa canggung atau merasa bingung saat harus dihadapkan dengan sesuatu yang baru. Contohnya memasuki hari pertama kerja, pasti ada perasaan bingung atau canggung, sedikit rasa canggung untuk memulai hubungan dengan sesama relasi kantor, pasti ada perasaan aneh yang mengganjal, tetapi seiring berjalan waktu perasaan itu pun hilang karena kita mulai terbiasa dan juga terbantu oleh tanggung jawab pekerjaan yang sangat membantu untuk mengalihkan pikiran dan perasaan canggung tersebut.

Tapi coba bayangkan kalau lingkungan baru tersebut bukan di sekolah atau di dunia kerja melainkan di lingkungan baru tempat kita tinggal, pasti rasa canggung dan bingung akan kita rasakan berkali-kali lipat rasanya.

Fenomena yang dikenal sebagai gegar budaya atau culture shock, fenomena ini biasanya dialami oleh orang yang berpindah dari satu lingkungan sosial budaya ke lingkungan lain yang sangat berbeda dari tempat asalnya.

Ketika menghadapi fenomena ini orang tersebut akan mengalami beberapa fase,  walaupun tidak semua orang akan mengalami fase ini karena dapat terpengaruhi oleh faktor waktu. Beberapa fasenya ialah;

  1. “Fase bulan madu” – pada fase ini perbedaan antara budaya baru dan lama dilihat sebagai sudut pandangan romantik, menarik, dan baru, Sebagai contoh, pada saat berpindah ke negara asing, seseorang mungkin menyukai makanan yang baru, tempo kehidupan yang baru, sifat masyarakat yang baru, arsitektur bangunan yang baru, dan seterusnya.
  2. Fase pembelajaran (“negosiasi”) – setelah beberapa hari, minggu, atau bulan, perbedaan kecil antara budaya baru dan lama diselesaikan. Seseorang mungkin rindu makanan rumah (homesick), tempo kehidupan terlalu pelan atau terlalu cepat, sifat masyarakatnya mengganggu, dll.
  3. Fase “semuanya baik” – setelah beberapa hari, minggu atau bulan, seseorang mulai biasa dengan perbedaan budaya baru dan telah mempunyai kebiasaan-kebiasaan. Pada fase ini, seseorang tidak lagi bertindak memiliki kesan positif atau negetif kepada budaya baru tersebut, karena budaya tersebut tidak lagi dirasakan sebagai budaya baru, melainkan sudah menjadi budaya keduanya.

Ketika si Neng pindah ke lingkungan baru yang mana lingkungan tersebut amat sangat berbeda dari negara asalnya beberapa orang bilang; “Enak yah tinggal di luar negeri”, “Enak banget ya gak tinggal di Indonesia, di luar negeri mah enak jalanannya juga bersih”, atau ada yang bilang “Kalau di luar negeri bebas ya mau ini mau itu (belum faham apa maksud dari ini dan itu -,- )”.

Disaat keluar ucapan-ucapan tentang enaknya hidup di luar negeri mungkin mereka hanya melihat dari luarnya saja, yang mana sering mereka lihat dari televisi atau media sosial lainnya, tetapi bagi orang yang menjalani sejujurnya susah-susah gampang untuk menghadapi hal tersebut. Karena kita akan mengalami gegar budaya atau culture shock, hidup kita akan berbalik seperti hitam dan putih. Hal kecil contohnya yang si Neng alamin adalah saat sarapan pagi, sarapan biasanya pakai nasi atau sekedar bubur ayam, tapi setelah tinggal di luar Indonesia jadi makan roti, oats atau cereal. Dan hal kecil ketika menggunakan toilet, di luar negeri mereka ya cenderung menggunakan tissue dibandingkan dengan air.

Tapiiiiiii disaat mengalami gegar budaya tersebut ada banyak hal positive yang dapat dipelajari, contohnya;

BASA-BASI DAN TEGUR SAPA

Setelah hampir dua tahun tinggal di Cape Town si Neng amatin kalau masyarakat sini hampir semua mereka cenderung suka berbasa-basi atau sekedar tegur sapa. Setiap pagi ketika berpapasan dengan orang yang tinggal di satu apartemen, baik itu satpam, bapak yang bersih-bersih apartemen, sampai orang dijalan ngucapin “Good Morning”. Pengalaman pagi ini dengan kondisi si Neng yang kurang fit, dan agak gak mood buat ngomong tapi disaat bertemu dengan mereka harus pasang senyum pepsodent dan bilang “Good morning 🙂 “. 

Terkadang ya mereka akan berbasa-basi untuk bilang “How are you doing?“, “Have a great day“. Menurut si Neng ini cukup bagus buat di terapin di Indonesia, tapi bukan maksud “kepo” yang berujung pertanyaan “Mau kemana? belanja apa?aduh mau ngeborong yahhh…#gubrakkkk”.

BUDAYA MENGANTRI

Jam 07:30 pagi si Neng uda meluncur ke département khusus untuk pembuatan Surat Ijin Mengemudi (SIM), kantornya buka jam 08:00 pagi, saat itu cuaca berkabut dengan suhu kurang lebih 15 derajat selsius, pas sampai disana——– Ampun gustiiii ternyata antrinya uda panjang banget, dikarenakan hari Sabtu jadi kantor tersebut cuma buka sampai jam 12:00 siang, alhasil orang-orang dateng sepagi mungkin. Takjub deh mereka antri rapih ditengah cuaca yang amat sangat dingin, panjang antrian kira-kira 5 meter, seketika disaat antri pikiran pun melayang ke kampung halaman yang berada nan jauh disana, bayangannya adalah: “Ummm pasti kalau dingin-dingin dan masi lama bukanya ni kantor pasti ini bapak-bapak lebih milih duduk diparkiran sambil merokok dan ngopi, disaat kantor sudah dibuka langsung deh berebutan masuk”. Bukan maksud membandingkan yang tidak baik tetapi ini fakta yang si Neng alamin saat pagi-pagi mengunjungi ke salah satu Bank di Indonesia dan Bank tersebut belum buka karena dateng kepagian dan diserobot bapak-bapak yang tenaganya lebih dari wanita.

BUANG SAMPAH PADA TEMPATNYA

Screen Shot 2017-11-21 at 23.18.37

Tahun lalu saat si Neng pulang ke Indonesia dan makan di salah satu food court di pusat perbelanjaan, setelah makan ya si Neng bersihkan sampahnya, lap pakai tissue kalau ada makanan yang berjatuhan di meja, dan salah satu temen si Neng bilang “Yaelah kerajinan banget sih, entar juga ada yang bersihin…”
Ummmmmm…. apa salahnya bersihkan makanan yang sudah kita makan lalu buang ke tempat sampah yang sudah disediakan?

Food court diluar negeri gak ada yang namanya pelayan restoran yang bakal bersihin bekas makanan kita, semua kita lakuin sendiri kecuali kita makan di restaurant (Wajib kasih uang tip juga yaaa buat pelayannya), kertas atau sterofoam bekas membungkus makanan dan sisa makanan, langsung diangkut sendiri dan dibuang ke tempat sampah, jenis tempat sampahnya pun beda-beda, dibedakan mana yang bisa di daur ulang atau enggak. Sementara nampannya, akan diletakkan di tempat yang telah disediakan.

ETIKA MENGGUNAKAN ESKALATOR

Orang-orang disini ketika menaiki eskalator jarang ada yang diem sambil diri anténg sampai lantai selanjutnya, rata-rata mereka akan tetap jalan, tapi kalau mau diem ya harus minggir, minggir atau dirinya harus di sebelah kanan, sebelah kiri itu jalan buat mereka yang mau tetep naik alias nanjak. Hal yang kontras begitupun dapat kita lihat di London atau negara lainnya yang memiliki Subway atau kereta bawah tanah pasti mereka akan berdiri rapih disebelah kanan kalau mereka terlalu capai untuk tetap jalan/menanjak. Kalau disini si Neng cukup lihat atau alamin saat di shopping mall aja.

LADIES FIRST

Istilah ladies first udah gak asing ditelinga kita, tapi apa kita sudah betul-betul menerapkannya?

Disini si Neng ngerasa bangga bener deh jadi perempuan, ngerasa banget diutamainnya. Disaat mau masuk lift pasti yang pria yang pencet tombol dan wanita yang masuk duluan atau mereka bakal tahan pintu lift buat kasi kita jalan, begitu pun di tempat umum sepeti ditempat perbelanjaan atau naik bus, pasti semuanya ladies first, terkecuali mengantri di tempat perbelanjaan. Cuma dua kali kayaknya si Neng dapet pengalaman bapak-bapak dengan senang hati kasi antriannya buat si Neng bisa bayar duluan 🙂 berata ratu deh pokoknya 😀

Nah segitu dulu deh sedikit pengalaman tentang gegar budaya atau culture shock, semoga bisa bermanfaat dan menerapkan sisi positive dari budaya yang ada di luar tempat asal kita.

Haturnuhun,

Neng Lita

Xx

 

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kejutan_budaya, http://indonesiamengglobal.com/2014/03/bukan-culture-shock-melainkan-reverse-culture-shock/

 

4 thoughts on “Fenomena Gegar Budaya atau Culture Shock”

  1. soal buang sampah pada tempatnya…iya bangetttt. DI Indonesia orang lebih banyak enggak peduli ya sama hal yg satu ini. Padahal apa salahnya membersihkan sisa2 makanan kita, kan berpahala juga buat kitanya hehe…

    Like

    1. Hi Mba Imelda..
      Iya betul Mba, paling greget kalau yg buang sampah dari orang yg naik di kendaraan umum/ pribadi, seenaknya buka jendela dan buang sampah gitu aja, atau yang naik kendaraan roda dua, sambil roko’an, aduh pengen tak kemplang itu kepalanya rasanya… #EmosiJiwa
      Selalu biasakan deh ya buat bawa kantong plastik kemana-mana buat jaga-jaga kalau mau buang sampah hehe…

      Liked by 1 person

  2. Halo Lita, salam kenal ya. 🙂
    Untuk yang buang sampah pada tempatnya itu emang masih jadi PR ya sampai sekarang. Padahal ga susah juga kan cuma ngerapiin dan nyimpen sampah sampe ketemu tong sampah.
    Yang suka buang sampah dari kaca mobil pas di jalan itu bener-bener ngeselin deh. hadehhhh

    Like

    1. Hi Wulan, salam kenal kembali 🙂
      Terima kasih sudah mau mampir ke blog si Neng.
      Betul, berurusan dengan buang sampah memang kembali pada diri masing-masing, semuanyan harus dilatih dr dalam diri, kedisiplinan buat buang sampah pada tempatnya memang harus kita terapkan pada diri sendiri dan lingkungan sekitar. Kalau sy liat yg buang sampah di jalan sih sy ambil sampahnya, terus sy kembalikan ke orangnya. Gpp deh dianggap “tdk sopan” yg penting mereka harus tau dmn tepatnya harus buang sampah hehe

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s